Kamis, 03 Maret 2011

BOLA DAN SEPATU DALAM PUISI-PUISI FATHUR


~ Sebuah review buku kumpulan puisi karya Fathurrahman Helmi

"AKU, BOLA,  DAN SEPATU" adalah sebuah buku himpunan puisi karya Fathurrahman Helmi (lahir di Meulaboh, Aceh Barat 21 Juni 1995) diterbitkan oleh Lapena, 2009 . Buku ini tergolong istimewa, sebab diantar oleh dua orang sekaligus (Wiratmadinata dan Damiri Mahmud) serta diiringi endorsment dari banyak kalangan (Mustafa Ismail, Herman RN, Mutia Erawati, Dino Umahuk, Jauhari Samalanga, Sulaiman Tripa, Medri, Raja Ahmad Aminullah, dan Wina SW1). Review ini, tentu menggunakan sudut pandang yang lebih bersifat pribadi, sebab saya tak hendak memperhatikan (tak membaca) keseluruhan pengantar dan endorsment yang ada dengan satu pengharapan dapat mereview puisi-puisi yang dihasilkan oleh Fathur yang saat buku ini diterbitkan masih tergolong usia anak-anak.

Dalam satu hal, saya seperti Stephen Spenders lebih menyukai puisi-puisi yang ditulis oleh penyair di awal karir kepenyairan, sebab puisi-puisi yang ditulis pada awal karier kepenyairan terasa lebih murni, lebih jujur, lebih spontan, dan jauh dari manipulasi (begitu sederhana: sama sekali terbuka). Karya-karya (puisi) yang dihasilkan oleh penyair usia muda seperti John Keats (Inggris), Arthur Rimbaud (Perancis), atau Chairil Anwar (Indonesia) mewakili kebanggaan bangsanya. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jika kita “tidak menganggap ada”  atau mencoret puisi-puisi mereka begitu mereka menulis puisi di usia dini, apakah sejarah perpuisian Inggris, Perancis, atau Indonesia dapat ditulis? Kita dalam konteks ini tidak dapat meremehkan usia muda, sebab di usia muda ini juga tersedia nilai-nilainya. Dalam konteks memberikan nilai inilah, atau tepatnya, memberikan penghargaan bagi karya anak bangsa inilah tulisan apresiatif ini dibuat.

Bola, Dunia dan Sepatu dalam Puisi Fathur
Ketika menulis puisi, ada dua pendekatan yang dapat dilakukan oleh kreator. Dua pendekatan itu, pinjam terminologi Sapardi Djoko Damono, ialah sudut pandang “anak kecil” dan sudut pandang “Sang Nabi”. Secara pragmatis, ketika kita menganlisis secara kritis wacana puisi, dua pandangan itu dapat diibaratkan sebagai pintu. Pintu-pintu itu seperti imajinasi Sapardi Djoko Damono digambarkan: terbuka perlahan-lahan .... satu persatu terbuka .... hingga akhirnya tak ada yang bernama rahasia; begitu sederhana: sama sekali terbuka.  Dalam alam pikir anak kecil yang penuh fantasi atau khayalan berpendar aneka imajinasi yang luar biasa. Dalam bayangan anak kecil, sebuah sapu bisa berubah menjadi pesawat terbang, bisa berubah menjadi kuda, dan dapat berubah secara imajinatif menjadi “apa saja” sesuai dengan apa yang dikhayalkan, dibayangkan, atau diangankan. Gambaran angan yang berujud imajinasi itu begitu menonjol di kepala anak kecil. Selain itu, dengan kekayaan imajinasinya itu si anak kecil asyik dalam konteks permainan yang ia ciptakan. Imajinasi itu taklain sebagai buah fantasi. Dunia anak-anak memang penuh fantasi.

Bagaimana bola dilukiskan dalam puisi-puisi Fathur? Di halaman 33 saya menemukan puisi berjudul "Bumi". Dalam pandangan umum, bumi menggambrkan sesuatu yang bulat, bundar, dan selalu saja ditemukan dalam puisi banyak penyair. Dalam alam pikir Fahur, bumi yang bulat itu digambarkan sebagai manusia yang sakit: "Aku di sini terpaku/menatap tanah yang tandus/bumi ini sedang sakit akibat ulah manusia" Bumi yang sedang sakit itu juga dibandingkan dengan sosok manusia yang makin tua dan mulai keriput. Puisi ini diungkapkan dengan sikap jujur, jernih, dan menggunakan perbandingan yang dengan cepat dapat dibayangkan "orang tua yang keriput dan sakit". Meski pendek, puisi ini sesungguhnya tak sekedar memotret, melainkan telah menunjukkan usaha melukis fenomena kerusakan bumi melalui kata-kata.

Lukisan mengenai hidup atau mengarah pada filosofi tentang hidup dilukiskan secara hidup, dinamis, lincah, dan penuh gerak dalam puisi berjudul "Sepakbola" (hal. 35): Aku berlari/Tak tentu arah/Terus menendang/Bagaikan senapan yang memuntahkan peluru". Lukisan mengenai hidup yang terus bergerak seperti ini justru terinspirasi saat menyaksikan sepakbola. Bagi orang kebanyakan, saat nonton sepak bola hanyalah nonton, tetapi berbeda dengan Fathur,sembari nonton sepakbola pikirannya (imajinasi dan fantasinya) merembet bergerak ke sebuah lukisan tentang hidup. Meski sederhana, penyair cilik ini telah merambah ke dunia filsafat atau setidaknya pemikiran filosofis. Dalam kehidupan kadang-kadang orang berlari tak tentu arah (tak memiliki tujuan yang jelas), terus menendang (tendang kanan-tendang kiri, sikut kanan, sikut kiri, bahkan kalau perlu dengan kekerasan "bagaikan senapan memunyahkan peluru".

Dalam hidup manusia tentu ada sasaran atau target atau tujuan (boleh juga cita-cita,harapan, keinginan dan sebagainya). Hal ini dilukiskan oleh Fathur dengan ungkapan seperti ini: "Gawang yang kuincar/Dengan semangat menggebu/Walau tidak gol/Aku akan terus berusaha". Ada gambaran semangat berusaha di dalamlukisan ini. Sebuah gambaran yang melukiskan upaya pantang menyerah untuk sampai tujuan. Fantasi dan imajinasi di dalam kepala Fathur lalu menghadirkan lukisan yang hidup tentang hidup itu sendiri: "Bola yang bergelinding/ Bagaikan hidup yang terus berlanjut/Tak ada kata-kata menyerah/Sebelum pertandingan usai." Lukisan ini luar biasa. Fathur sanggup menghadirkan metafora secara jernis yang membandingkan hidup dan kehidupan dengan permainan sepakbola!

Masih terkait dengan filosofi tentang hidup. Fathur selanjutnya menulis "Hidup" (hal. 37):" Kehidupan/ Bagaikan roda/Sebentar diatas sebentar di bawah/Aku harus menjalani kehidupan ini// Tak ada kata menyerah/ Sebelum mencoba sesuatu/Hidupadalah simbol/Di mana akan terus dicamkan dalam dunia ini". Meski ungkapan hidup itu ibarat roda pedati, kadang di atas dan kadang di bawah telah menjadi ungkapan umum, namun kita menjadi terkagum saat ungapan ini meluncur dari alam pikir anak-anak. Alam pikir Fathur serupa aneka bentuk benda yang dicerap dan dipersepsi hadir dalam bentuk bulatan (bola, bumi, roda, bulan, dan sebagainya). Terkait dengan gambaran bulan, Fathur menulis puisi berjudul "Bulan" yang menurut pembacaan dan pemaknaannya hadir secara lembut, romantis, dan hangat: "...Bulan sabit/Melengkung/ bagai celurit// Saat bulan dan bintang menyatu/Membentuk wajah yang tersenyum/Mengingatkan aku pada senyummu yang indah". Wow, anak seusia Fathur bisa mengungkapkan kehalusan rasa seperti ini, tentu luar biasa.

Lalu bagaimana Fathur melukis sepatu? Dalam puisinya berjudul "Sepatu" di halaman 63, Fathur menulis seperti ini:

Bagaikan peluru
Cept dan langsung menuju sasaran
Sepatu itu melesat
Mengarah kepala mister ni. 1 Amerika
Andai kena aku akan tertawa

Warga bersorak
Tertawa juga mengecam
Sepatu itu
Anggap saja salam dari orang-orang teraniaya
Yang telah kau hancurkan hidup mereka
Semoga kau jera
Dan tak pernah
Memperlakukan orang dengan hina lagi
Salam dari kami para pemakai sepatu

Banda Aceh, 16 Desember 2008

Bagi pembaca yang memiliki referensi, minimal acap membaca berita "tragedi" (tragikomedi?) pelembaran sepatu yang mengarah ke orang nomor 1 (presiden) Amerika Serikat, puisi ini tampil secara memikat. Daya pikat puisi ini tentu saja bertolak dari aktualitas peristia, lalu bertolak dari aktualitas peristiwa itu dibawa ke arah perenungan mengenai hidup dan kehidupan,lengkap dengan etika dan norma yang menyertainya. Dalam konteks ini, dalam hal pemaparan puisi, saya jadi teringat kekuatan refleksi puisi-puisi Rendra. Fathur, yang juga disayang oleh Rendra, memiliki potensi kreatif seperti Rendra dalam hal diksi, visi, dan ketajaman/kedalaman renungan mengenai hidup.
  
Melalui alam pikir anak kecil yang suka berkhayal, berimajinasi, dan berangan-angan atau berfantasi dapat dihasilkan kekayaan penggambaran yang memiliki makna. Demikianlah, ketika kreator menggunakan pendekatan “anak kecil yang suka bermain-main” dalam menulis puisi dan berusaha menjauhkan diri dari kesan “main-main” dengan kesengajaan serta dilambari oleh orisinalitas pengungkapan yang jujur akan terbuahkan aneka puisi yang penuh dengan imajinasi. Imajinasi ini dibuahkan melalui upaya pemaksimalan aktivitas psikis berkayal, melamun, merenung, dan memikirkan satu hal.

Selain puisi dibuahkan kreator dari sudut pandang “anak kecil” yang penuh imajinasi, puisi juga dihasilkan melalui pendekatan “sang nabi”. Apabila puisi dihasilkan melalui sudut pandang “anak kecil” tercipta puisi yang kaya imajinasi, lincah, tak terduga, mengejutkan, dan menyenangkan, maka di pihak lain puisi yang dihasilkan dari sudut pandang “sang nabi” berisi fatwa-fatwa agamais yang religius sifatnya. Puisi-puisi yang digubah dengan sudut pandang “sang nabi” berisi dengan aneka ajaran dan pesan moral. Penyampaian ajaran dan pesan moral ini realisasinya dapat terungkap secara sederhana, namun di pihak lain dapat pula terungkap secara kompleks. Religius yang bertaraf permulaan tampil melalui kesederhanaan, sedangkan religiusitas yang bertaraf tinggi cenderung menggambarkan kompleksitasnya (berbagai tingkatan: syariat, tariqat, hakikat, dan makrifat, dan berbagai paham serta keyakinan lainnya).

Hal yang menurutku termasuk "gila" (gila dalam tanda petik) ialah remaja seperti Fathur memiliki pedang kata-kata yang tajam, menyimpan kekuatan renungan. Seperti apa lukisan kegilaan Fathur dalam merespons lingkungan kehidupannya, terdedah dengan baik pada puisi berjudul "Gila" (hal. 86) yang untuk menunjukkan kepada pembaca saya kutipkan secara keseluruhan:

                          Gila

Semua yang terjadi
Selalu di luar kendali

Kehidupan kini makin hancur
Pembunuhan
Kekerasan
Korupsi
Semua yang tak lazim
Sudah menjadi makanan sehari-hari

Hidup ini kian gila
Semua memperebutkan kekuasaan
Kekuasaan dianggap sebagaiharga mati

Dunia makin gila
Akankah kiamat terus mendekat?
Jangan tanyakan padaku
Karena aku tak tahu

Banda Aceh,25 Desember 2008.

Pembaca, kita telah sedikit berkenalan dengan pandangan dunia penyair muda usia dari Banda Aceh mengenai hidup dan kehidupan yang digali dari peristiwa keseharian di sekitar kita. Sebagian besar puisi Fathur memilikipotensi seperti kekuatan ekspresi Rendra, sebagian puisi lainnya lebih mengarah ke puisi-puisi yang liris-imajis, yang merupakan trend penulisan puisi yang tak pernah ditinggalkan oleh penyair dalam konsepsi estetis apapun juga. Saya masih menanti perkembangan karya Fathurrahman Helmi (putra sulung Helmi Hass dan D Kemalawati). Saya memiliki keyakinan, lantaran Fathur diasuh dan dibesarkan oleh orang-orang hebat di bidang sastra dan budaya, kelak jika setia menjalani proses kepenulisan dan mengasah diri terus-menerus dapat diharapkan sebagai penyair yang diharapkan. Demikian, salam budaya.

04 Maret 2011 jam 9:41

*Sumber : http://bengkelpuisidimasarikamihardja.blogspot.com


MEMBACA PEMIKIRAN KANAK-KANAK DALAM AKU, BOLA DAN SEPATU


oleh Djazlam Zainal pada 03 Maret 2011 jam 17:37

Proses pemikiran manusia mempunyai peringkat-peringkat tertentu. Menurut ahli psikologi, proses ini mempunyai dua peringkat. Peringkat permulaan, seseorang kanak-kanak meresapkan seberapa banyak rangsangan yang diterima untuk dijadikan pengalaman ( asimilasi ) Peringkat kedua, hasil proses asimilasi, kanak-kanak mengubahsuai pandangan dan tingkahlaku ( akomodasi ) ( Piaget & Inhender, 1969 )

Daripada penerangan di atas, mungkin boleh dijadikan anjakan untuk kita melihat kecenderungan Fathurrahman Helmi dalam karya kreatifnya. Fathurrahman dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1995 di Meulaboh, Aceh Barat. Anak kepada pasangan aktivis sastra terkemuka iaitu De Kemalawati dan Helmi Hass. Karya pertamanya yang dipetik dalam kumpulan ini ialah tanggal 17 September 2005 iaitu ketika usianya 10 tahun. Jika benar dalam usia begitu, ternyata Fathur berkarya dalam usianya kanak-kanak. Menurut kajian, kanak-kanak berusia antara lima hingga ke usia remaja sangat seronok bermain dengan kawan-kawan sebaya. Memerlukan kemahiran yang dipelajari pada usia kanak-kanak untuk pergaulan kepada yang lebih dewasa.

Puisi pertama dalam kumpulan Aku, Bola dan Sepatu ialah Jangan Kau Buat Lagi Korupsi ( untuk para koruptor ) pada halaman 29. Fathur menulis:

jangan kau buat lagi koruptor
apakah kau ingin berlibat dengan hukum
suara koruptor
kalian membuat diri kalian sombong
buat apa kalian buat korupsi
kalian sendiri akan sengsara

jangan kau buat lagi korupsi
kalian menentang hukum politik
apakah kalian senang membuat korupsi
kalian akan sengsara di dalam penjara
seperti tikus terpojok oleh kucing
di sudut tembok

( Kuantan, 17 September 2005 )

Pertamanya, persoalan korupsi. Kanak-kanak berusia 10 tahun mermbicarakan tentang korupsi. Apa korupsi ini seperti KFC atau Mc Donald yang begitu akrap kepada kanak-kanak? Apa korupsi itu seperti Ipin & Upin atau Doeremon yang digilai kanak-kanak? Tentu tidak sedemikian mewenangkan tentang korupsi. Tetapi apabila kanak-kanak berusia 10 tahun mendentik tentang korupsi, sudah tentu korupsi sudah menjalar sedemikian jauhnya hingga ia juga difikirkan oleh kanak-kanak. Toh, kalau demikian, betapa buruknya korupsi ini di sekitar kanak-kanak bernama Fathurrahman hingga ia menjelmakan korupsi sebagai bahan ledakannya dalam sebuah puisi kanak-kanak.

Tarikh menulis ialah 17 September 2005 iaitu ketika Fathur berusia 10 tahun. Tempatnya di Kuantan. Saya tidak pasti Kuantan ini di Aceh atau di Malaysia. Kuantan di Malaysia ialah ibukota negeri Pahang, sebuah negeri di bahagian timur Malaysia. Kalau tidak salah, menurut ayahnya, Helmi, pada tahun itu, keluarga mereka pernah ke Pahang iaitu sempena peluncuran buku Ziarah Ombak. Kalau matlumat ini diambil, puisi tentang korupsi ini diciptakan di Malaysaia. Apakah ketika ini Fathur sedang membaca perkembangan korupsi di Malaysia. Duh, jika benar, Fathur adalah Hang Nadim yang pernah lahir di Singapura ketika pulau itu dilanggar todak. Ketika pembesar negeri menyuruh rakyat Singapura berkubu dengan menggunakan betis, datang Hang Nadim menyarankan agar berkubu dengan batang pisang. Dengan akal budak, akhirnya Singapura terselamat tetapi Hang Nadim dibayangkan akan merosakkan sistem feudal ketika itu. Langsung difitnah akan Hang Nadim dibunuh. Dalam konteks sekarang, Hang Nadim harus " dibunuh " dari bersuara!

Menurut Dr. Halimah Badioze Zaman ( Dewan Sastera, Mei 1992: 5 ) untuk perkembangan pemikiran, seseorang memerlukan berbagai-bagai pengalaman sebagai bahan mentah untuk diolah. Pengalaman ini diperoleh melalui cara terus ( iaitu pengalamannya sendiri ) atau cara tidak langsung ( melalui pengalaman orang lain  atau pembacaan ) Selain pengalaman sebagai bahan mentah untuk pemikiran, penguasaan bahasa adalah satu keperluan yang sangat penting untuk membantu kanak-kanak menjalani proses pemikiran yang lebih tinggi. Dengan penguasaan bahasa ia dapat membebaskan dirinya daripada ikatan benda-benda yang konkrit.

Lewat puisi kedua yang diciptanya ialah Ngamen ( halaman 30 ) pada tanggal 20 November 2008. Dilihat tarikhnya, jarak kedua puisi ini ialah 3 tahun. Satu jarak yang relatif panjang. Kalau memang jarak ini diambil, dan tempoh ini diperhati sewajarnya, Fathur berehat 3 tahun dari menulis puisi dan puisi kedua ini dicipta dalam usianya 13 tahun. Mengikut pemerhatian saya, sudah tentu Fathur tidak berehat sebegitu lama cuma untuk susunan sebuah antologi puisi, hanya puisi yang benar-benar baik dan berkewajaran diambil. Ini saya kesan kerana suaranya masih sempurna, malah menampakkan peningkatan yang lebih lugas.

Dalam Ngamen, Fathur menulis;

Oh... debu
Oh... panas
Oh... keringat
Kalian selalu menemaniku
Di saat suka maupun duka

Oh... uang
Hanya kau yang ada di pikiranku
Dengan cara apalagi aku harus memperoleh
Selain dari mengamen

Cacian dan makian
Teman kami
Kemiskinan
Bahagian hidup kami

Kemiskinan tak menghalangiku
untuk malas-malasan
tetapi menjadi semangat untuk menempuh
perjalanan duniawi
dan aku akun percaya bahawa aku bisa

( Banda Aceh, 20 November 2008 )

Kemampuan berfilsafat bocah SMP kelas II ini sangat luar biasa. Melihat teks yang dinarasikan, ia sebuah teks yang lugu dari seorang bocah yang dosanya masih ditanggung oleh ibubapa. Sebagai sebuah hipotesa, saya juga terasa tergamam lantas tercari-cari akan lugu dan lugasnya sang penyair bocah ini. Fathur melalui Ngamen menceritakan mengenai dunia pengemis. Panas, hujan sudah menjadi fatal pada mereka. Yang penting uang kerana dengannya kehidupan dapat diteruskan. Fathur menyelami jiwa pengemis dan memberi resolusinya " bahawa aku bisa. " Sebagai resolusi kepada keteguhan semangat pengemis, Fajar ( halaman 32 ) adalah jawabannya.

Bagaikan hidup baru
Saat disinggahi fajar
Yang dapat menyejukkan hati
juga memberikan angin segar
untuk hidupku

Untuk perkembangan pemikiran, seseorang memerlukan berbagai-bagai pengalaman sebagai bahan untuk diolah. Pengalaman didapati daru pelbagai cara antaranya pengalamannya sendiri atau pengalaman orang lain. Daripada cantuman pengalaman sendiri dan orang lain inilah, Fathur menulis puisi tentang Sepakbola ( halaman 35 )

Aku berlari
Tak tentu arah
Terus menendang
bagaikan senapan yang memuntahkan peluru

Gawang yang kuincar
Dengan semangat menggebu
walaupun tidak gol
aku akan terus berusaha

Bola yang menggelinding
Bagaikan hidup yang terus berlanjut
Tak ada kata menyerah
Sebelum pertandingan usai

Inilah pandangan jujur bocah kecil mengenai sepakbola. Baginya sepakbola hanya suatu permainan atau perlawanan membolos gawang gol. Larian pontang-panting tak tentu arah seakan sia-sia. Namun percaturan sepakbola sebenarnya lebih dari itu. Penipuan, perjudian, gengsi dan pematukan! Jadi biar Fathur saja membicarakan sepakbolanya dari kaca mata sucinya. Yang terselindung di balik sepakbola sebenar, biarlah menjadi rahasia.

Membaca keseluruhan 61 buah sajak Fathur akan menemukan pelbagai keistimewaan. Biarlah saudara pembaca sendiri menemukan kenikmatan itu. Bagi saya, Fathur telah menyuguhkan sesuatu yang mencabar sebilangan penyair dewasa yang berpilin dengan kata-kata berbusa. Saya mencadangkan puisi-puisi Fathur terus dipublish dari semasa ke semasa dalam laman fekbuk ini agar ia dapat dinikmati ramai. Barangkali saya sendiri akan mengusahakan ini sebagai cara memperkenalkan Fathur ke arena yang lebih besar dan luas. Juga ulasan spontan yang bakal diulurkan pembaca. Dan kemungkinan-kemungkinan dapbrakan yang di luar jangka oleh penyairnya.


*Djazlam Zainal, Kritikus dan Karyawan Malaysia

Senin, 28 Februari 2011

SALAM CINTA KEMALAWATI



Oleh Damiri Mahmud

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-fUUOoczURNWHApUKhonhbVjqR6lzzOTSOqqTbQrpR6VB7OFxv5AVkOjsGyclivAL7qA2DBr4whIbpNFmszyzNB15SVcWjKHEOUAjN6xZ8q7czPUwTMdfnl_VN5LtaLHowCcFqnTafgs/s320/cover+Kemalawati.jpg



         D. Kemalawati, lahir 2 April 1965 di Meulaboh, Aceh Barat. Ia telah menulis puisi sejak 1980-an yang terkumpul dalam berbagai antologi. Kumpulan Surat dari Negeri Tak Bertuan adalah bukunya puisi yang pertama, diterbitkan oleh Lapena, Banda Aceh, 2006.  Meskipun sehari-harinya ia sibuk sebagai guru matematika di sekolah kejuruan di Banda Aceh dan menjadi ibu rumah tangga, namun ia tetap terus menulis. Bahkan di samping puisi, ia juga menulis opini dan beberapa cerpen. Ia pun telah menulis sebuah novel Seulusoh yang mengisahkan seorang gadis yang harus menolong seorang perempuan hamil di tengah ganasnya tsunami melanda Aceh.  Untuk semua kegiatannya itu, baru-baru ini Gubernur Nangroe Aceh Darussalam telah menganugerahi D. Kemalawati (dan beberapa rekannya) berupa Satya Lencana Kebudayaan.
Surat dari Negeri Tak Bertuan  berisi tumpang-tindih pengalaman Kemalawati sebagai manusia dan penyair yang menyaksikan berbagai fenomena di negerinya yang ia catat dengan nada yang  selalu perih dan buram. Buku ini berisi puisi-puisi penyair mulai tahun 1987 hingga 2005, sebagaimana kita tahu adalah tahun-tahun yang cukup berat dan prihatin bagi negerinya, Aceh. Dalam antara tahun itu terjadi berbagai peristiwa besar dan mengenaskan bagi rakyat Aceh. Gerakan Aceh Merdeka yang dideklarasikan tahun 1976 masih terus bergolak, hingga Pemerintah Orde Baru menetapkan status Daerah Operasi Militer (DOM) yang menyisakan kesengsaraan rakyat sipil dan kuburan massal. Kemudian era Reformasi yang memberikan kebebasan bersuara dan tiba-tiba bencana tsunami yang meluluhlantakkan negeri itu (meskipun memberi hikmah akan tejadinya kesepakatan anatara RI-GAM), semuanya digoreskan oleh D. Kemalawati dengan nada perih dan penuh empati dalam kumpulannya itu.
Adakalanya ia menyindir dengan halus, atau menangisi penderitaan manusia yang tergelanggang di depan matanya, tak jarang dalam larik-larik yang lantang ia terpaksa berteriak dan berseru mengapa hal-hal yang di luar jangkauan manusia yang beradab harus terjadi. Kadang ia merenung, mengapa dalam situasi di mana manusia harus menyelamatkan dirinya tapi ternyata tak mampu berbuat apa-apa sehingga menjadi korban keganasan secara semena-mena. Padahal manusia telah dilengkapi oleh Sang Maha Pencipta dengan kelengkapan yang sempurna untuk mengharungi dunia ini sebagai khalifah atau pemimpin.
bagai kunang-kunang yang mabuk cahaya
seakan bara siap mengharumkannya
perut sejengkal sudah sehasta
berbongkah-bongkah daging merah
gerah menari di lidahnya
...
kita tak belajar membaca tanda-tanda
         (Kita tak Belajar Membaca Tanda-tanda, baris 10-14 dan 20)
Mengapa manusia, renung penyair, ketika bencana dahsyat akan menerkamnya malah “bagai kunang-kunang yang mabuk cahaya” sehingga mara bahaya yang akan memangsanya “seakan bara siap mengharumkannya”. Inilah kehidupan manusia yang berada dalam dilema sehingga ia terperangkap ke dalam ironi yang tak terpahamkan. Bahkan hewan tatkala akan terjadinya malapetaka tsunami itu seakan tahu apa yang akan terjadi.
Banyak yang menyaksikan burung-burung putih di pantai pelabuhan Malahayati berbondong-bondong terbang ke bukit menjauhi laut tempatnya sehari-hari mencari rejeki, sementara manusia tatkala pasang tiba-tiba timpas dan ribuan ikan-ikan menggelupur di pinggir pantai menyangka itu sebagai rejeki dan berbondong-bondong ke pusat bahaya bagai kunang-kunang yang mabuk cahaya, sehingga ombak berbalik 180 derajat mereka menjadi mangsa yang empuk. Karena kita tak belajar membaca tanda-tanda. Padahal ombak atau alam ternyata patuh atau selalu mengikut kehendak manusia yang bertindak sebagai pemimpin di muka bumi. Alam membuka dirinya agar dapat dikenali dan dikendalikan:
agar siapapun kan merasakan
berbagai makna di kakiku
yang terus telanjang
              (Ombak, baris 3-6)
   Alam telanjang di hadapan manusia, supaya manusia dapat membaca berbagai makna di kakiku.  Manusialah yang harus arif membuka makna itu. Dan penyair menyarankan supaya misteri alam itu pertama-tama dibuka dengan rasa cinta.
angin liar menerpa wajah kita
ucapkan salam cinta
dan laut lepas tautkan makna
di ujung dermaga
            (Angin, baris 1-4)
Demikianlah sifat alam. Ia pada mulanya liar. Menyimpan berbagai misteri yang pada permukaannya kelihatan menyeramkan. Masuk ke hutan lebat manusia merasa ngeri. Menyelam ke dalam lautan menjadi ketakutan. Mereka menyangka di dalamnya penuh dengan hantu dan peri. Sehingga tak bisa memanfaatkannya secara maksimal dan berjarak dengan alam.
 Tapi tatkala ilmu dan teknologi telah dicapai manusia sebagai senjata atau peralatan yang mendedahkan rahasia alam itu, ia dikuras habis-habisan tanpa kenal ampun. Dengan iptek di tangannya manusia mengusir hantu dan peri dan sekali gus harta kekayaannya.  Di sinilah dilema itu. Ketika manusia dipenuhi ketakutan oleh takhyul dan khurafat ia berjarak dengan alam, tapi memperlakukannya secara santun dan hati-hati. Isi dan kekayaan alam itu diambil seperlunya sebatas kebutuhan yang sederhana. Ketika era teknologi tinggi telah diperoleh manusia, ia tak lagi berjarak dengan alam sehingga dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin bahkan menguasai. Hal ini sebenarnya baik karena memang manusia telah dilantik Tuhan sebagai pemimpin di muka bumi. Masalahnya adalah kekuasaan selalu identik kesewenang-wenangan atau kezaliman. 
 Manusia selalu abai tatkala yang diimpikannya menjelma di depan mata. Nafsu serakah dan menguasai tiba-tiba muncul bagai makhluk buas yang saling terkam. Tak peduli lagi siapa kawan siapa lawan. Siapa pemilik dan yang mana perampok. Hal inilah yang terjadi yang memunculkan berbagai tragedi di bumi Aceh sebagaimana yang direkam dalam banyak puisi Kemalawati dalam kumpulan ini.
 Mereka lupa mengucapkan salam cinta kepada alam. Padahal jika demikian alam akan bersahabat dengan manusia, akan tautkan makna/di ujung dermaga. Ia akan patuh dan menyampaikan tujuan kita sehingga kita bisa hidup selaras.
Tapi alam sebagai makrokosmos, sebagai layaknya manusia yang mikrokosmos, tatkala ia terlalu diperas dan diperbudak ia melawan. Pada titik kulminasi itu alam menjadi ganas untuk mempertahankan dirinya. Ia mempecundangi manusia sehingga mereka terperangah. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka capai menjadi tumpul dan seperti tak ada artinya.
saudaraku, pernahkah kita diskusikan tentang
lidah ombak yang tiba-tiba menjulur panjang
dengan desisnya yang gemuruh menggulung
bukit dan gunung
menjilat bersih rawa-rawa menjadi samudera
padahal engkau hampir sampai di puncak ilmu
istri, anak dan saudaramu kau titipkan di rawa itu
                          (Rawa Itu Bernama Kajhu, bait II)
Manusia  terperanjat dan menjadi dungu. Ia bahkan tak pernah membayangkan sebelumnya malapetaka akan tejadi demikian ganasnya. Ilmu pengetahuan yang dibanggakannya menjadi sia-sia, malah bagai bumerang untuk mempersaksikan kebodohan itu dalam suatu dilema yang tragis dan memilukan, “padahal engkau hampir sampai di puncak ilmu/istri dan anak-anakmu kau titipkan di rawa itu”. Ini betul-betul suatu ironi. Ilmu pengetahuan selalu datang terlambat. Ia hanya bisa sebatas sintesa dan hipotesa, sehingga ketika sesuatu fenomena yang tanpa aksioma datang menerkam dirinya manusia bahkan menyambut kedatangannya dengan berpesta pora karena mengira akan datang sebuah keberuntungan atau sesuatu yang luar biasa dan agung.
orang-orang bepesta menyambut bulan
melebihi gemuruh ombak mereka mengundang badai
                       (Ujung Kareung, bait I)
Demikianlah tragisnya. Manusia yang telah dipenuhi hawa nafsu tak pernah lagi sadar dan tak lagi peka terhadap bahaya yang akan mengancam nyawanya bahkan sebaliknya malah memuaskan naluri hewani menyongsong tragedi itu.
“ia tak menari”, gemuruh percakapan langit
dibibir pantai sepenggal syair dihembus angin
tentang sajak tubuh yang luka
(kueja makna cinta di sana)
                 (Ujung Kareung, bait II)
Tatkala manusia tak lagi menghargai alam dan memperbudaknya, alam balik mempermainkan manusia. Manusia menyangka ia hidup bahagia dengan mengeksploatasi alam secara semena-mena, hidup mubazir laksana berdiam di sorga, padahal sebenarnya ketika itu “ia tak menari”. Manusia sedang diintip oleh limbah kerakusannya sendiri. Ia yang lupa daratan dan “berpesta menyambut bulan” bagai hidup di sorga, tiba-tiba musnah ditelan sejarah, yang tersisa hanya “sepenggal syair yang dihembus angin 
Namun demikian manusia masih mempertuhankan ilmunya, masih mempertuhankan dirinya tanpa sadar dan menginsyafi bahwa ia telah berada pada peringkat kezaliman  yang tinggi. Manusia yang sewenang-wenang, yang mempertuhan ilmu dan kekuasaannya, yang sebenarnya hanya segelintir dan berada di menara elit, telah merekayasa dunia ini dengan kehendaknya pada hal bukan dia yang menciptakannya.  Jasmaninya sarat dan berat dengan beban duniawi tapi batin telah keropos dan berkarat dalam lumpur dosa.
di negeri alunan azan menggema ke bulan
dendam mengikis cinta hingga ke akar
tak lagi syair menggugah kalbu
membasahi iman kering dan beku
                    (Negeri Peluru, bait III)
Tragisnya lagi, manusia elit ini telah membawa seluruh umat manusia ke dalam kancah nista dan bencana yang secara tak sadar telah dipersiapkannya sendiri dengan ilmu dan kekuasaannya.  Lalu umat, yang sebenarnya tak tahu apa-apa atau tak ikut terlibat merekayasa kezaliman itu, malah menjadi korban dan  menanggung akibatnya.   Maka di negeri sebagaimana yang dilukiskan penyair itu, di negeri nurani terusir, sudah pantas dan pada waktunya manusia menyadari dan menginsyafi kealpaan dirinya, kembali membasahi iman yang telah kering dan beku disebabkan petualangan yang telah begitu jauh dan menyesatkan.

Damiri Mahmud, kritikus sastra dan penyair tinggal di Medan